Rabu, 19 Maret 2014

PRAPASKAH 2013 PWK PTAPB





MEMIKUL SALIB DAN DENGAN LIMA TALENTA
DALAM BEKERJA DAN BERKARYA
Ign.Djoko Sardjono

Menyangkal diri, memikul salib dan mengikuti Yesus merupakan satu kesatuan tindakan/kegiatan yang sama. Ungkapan tersebut di atas  sesungguhnya bisa diberlakukan untuk seluruh kehidupan namun siang ini akan kita fokuskan pada karya-kerja (sebagai karyawan/wati di PTAPB-BATAN/STTN). Bekerja-berkarya secara imani bisa merupakan wujud syukur dan penghargaan kita terhadap talenta yang sudah Tuhan berikan pada kita. Kerja dan Karya kita bisa menjadi sarana untuk menggapai mimpi/obsesi kita , karena di dalamnya ada muatan seluruh pemikiran, perasaan, ketrampilan yang kita miliki untuk kita tuangkan agar bisa  membuahkan hasil yang bisa kita nikmati bersama keluarga maupun orang lain yang kita layani (misalnya orang bisa kita ajak sharing pengalaman dan  yang mengharapkan bantuan kita ataupun yang akan memakai buah karya kita).

Capaian yang baik/memuaskan, tentu saja dilandasi dengan rencana yang baik/matang sebagai buah pemikiran yang total berdasarkan komitmen/spiritualitas yang kita pegang yakni keteladanan Yesus dalam bekerja-berkarya yang selalu mengacu pada Karya Agung Allah yakni karya penyelamatan Allah. Ujud refleksi Karya Agung Allah tersebut bisa bermacam macam tergantung pada pekerjaan/profesi kita. Sebagai ilustrasi yang nyata misalnya untuk kasus seorang bidang/dokter ahli kebidanan dan kandungan yang dihadapkan pada tuntutan profesi sekaligus nurani (konteksnya keimanan) yakni mendapatkan satu pekerjaan untuk menggugurkan kandungan/aborsi  seorang remaja yang hamil di luar nikah.

Secara manusiawi : mungkin ada perasaan iba bercampur dengan sayang akan tetapi disisi lain yang bersifat duniawi/materi ada harapan untuk mendapatkan imbalan yang cukup besar kalo dokter/bidang tadi mau melaksanakannya. Dari kaca mata sang pasien dan keluarganya, dokter/bidan tersebut kalo mau melakukan aborsi mungkin akan mendapatkan predikat dewa/dewi penyelamat aib keluarga, tetapi dari kaca mata iman Kristiani sang dokter/bidan tersebut jelas melanggar hukum Tuhan karena telah ikut serta dalam berkonspirasi dengan  pasiennya untuk menghilangkan karya Agung Allah yakni kehidupan sang bayi yang mestinya lahir dan bisa bertumbuh dengan baik untuk nantinya bisa menjadi generasi penerus dalam ikut serta melanggengkan karya Agung Allah.

Menyelamatkan bayi dari aborsi merupakan pilihan yang benar seratus persen secara iman Kristiani, meskipun resikonya mungkin sang dokter/bidang itu akan kehilangan sejumlah pelanggan yang berarti kehilangan rezeki dalam jumlah yang cukup besar, tetapi itulah wujud nyata dari dokter/bidan kalo mau mengikuti Yesus dalam memikul salib  dengan menanggung semua resiko termasuk kehilangan fee dari si pasien/pelanggan, tetapi bisa menyelamatkan kehidupan sang bayi yang tidak berdosa.

Kalo kita kembali kepada Yesus Sang Teladan kehidupan kita dalam berkarya dan bekerja, beliaulah yang telah dengan seluruh jiwa raganya berani mengambil resiko dengan menanggung beban penderitaan duniawi, aneka kesulitan dan bahkan  sampai mengorbankan hidupNya melalui penyaliban sampai wafatnya demi penyelamatan dosa-dosa kita yang beliau sendiri tidak perbuat. Dan itu semua merupakan rencana karya Agung Allah dalam penyelamatan manusia. Meskipun beliaunya punya hak untuk tidak menyangkal diri/menolak  karya penyelamatan itu tetapi hal itu tidak beliau lakukan demi untuk melaksanakan kehendak Allah Bapa untuk keselamatan manusia.

Demikian juga dengan karya-kerja kita di PTAB-BATAN, kalo kita mau memanggul salib dengan bekerja yang jujur (tidak memalsukan data penelitian ) bertanggung jawab (apa yang kita kerjakan yakin kebenarannya secara ilmiah dan analitis, melaporkan apa yang kita kerjakan bukan orang lain kerjakan atau tidak mencari tumpangan untuk mempertahankan hidupnya jafung kita ) secara duniawi mungkin kita sebagai pekerja/karyawan bisa menderita karena pangkat/jafungnya stuck yang artinya grade fungsional/remunnya tidak naik-naik, mungkin kita juga akan mendapatkan sindiran /cemohan misalnya sok suci atau melawan arus karena sebagian besar dari kolega yang tidak seiman dengan kita mungkin untuk naik pangkatnya  tidak melakukan hal yang kita sangkal ini, tetapi secara batiniah kita akan puas karena apa yang kita dapatkan merupakan buah karya kita yang tidak menyakiti hati Tuhan/selaras dengan kehendak Tuhan (menurut keyakinan iman kita). Dan sekaligus dengan melakukannya dengan landasan iman Kristiani semua resiko yang kita alami bisa menjadi bahan refleksi diri untuk menempa kemampuan kita menjadi jauh lebih baik sehingga pada saatnya nanti apa yang kita ingin capai bisa terwujud karena berkat kerja keras kita yang dilandasi semangat untuk mengikuti Yesus dalam memikul salib sampai Golgota tidak berhenti di perhentian tertentu (tidak berhenti ditengah jalan tetap semangat  sampai impian kita masing-masing tercapai).

Hal lain yang terkait dengan karya dan kerja yakni perikop dalam Injil yang menyuratkan seorang Tuan yang akan pergi jauh (mungkin bisa kita kontekskan dengan jaman ini bahwa beliau mau pergi ke Luar Negeri), dia menitipkan beberapa talenta  yang diberikan pada hamba-hambanya mulai dari yang jumlahnya terbesar yakni 5, kemudian 2, dan yang terakhir 1. Hamba yang diberi 5 talenta bisa menggulirkan sehingga mendapat laba 5 talenta, demikian juga yang 2 bisa menggulirkannya sampai mendapatkan laba 2 talenta; akan tetapi hamba yang diberi 1 tidak melakukan hal yang sama dengan ke dua hamba sebelumnya malahan menyimpannya dengan alasan takut pada Tuannya yang menurut penilaiannya Tuannya tersebut dikenal keras dan tidak mengenal belas kasih terhadap hambanya.

Nah, pada saat Tuannya kembali dari LN semua hamba-hamba dipanggil untuk melaporkan apa yang telah mereka perbuat dengan talenta-talenta yang sudah diberikan pada masing-masing hambanya. Mulai dari hamba yang menerima 5 dan 2 talenta, Tuannya memberi apresiasi dan akan memberi reward; tetapi untuk hamba yang menerima 1 talenta Tuannya sangat marah, karena dia merasa sia-sia memberikan kepada hamba yang tidak tepat(tidak punya inisiatif untuk berkembang alias malas dan takut mengambil sikap/resiko). Dari uraian tersebut diatas bila boleh kita kontekstual dengan keberadaan kita masing-masing disini sebagai hamba Tuhan Yesus apakah kita sudah berusaha untuk mengoptimalkan talenta kita masing-masing.

Kalo boleh saya (BKTPB) bersama dengan pak Heru Purnomo (BR) dan Pak Rafael Edi S. (Perpus) mengambil posisi sebagai Tuan (karena selain saya pribadi , dan kedua bapak tersebut di tuakan sebagai calon Purna Karya/pensiunan) dari bapak-ibu semua yang segera meninggalkan PTAPB-BATAN sebagai ladang penyemaian talenta kita masing-masing per 1 April 2013 , menyerahkan sepenuhnya kepada bapak-ibu warga PWK yang kami cintai dan boleh berpesan jadikanlah hamba yang menerima 5 talenta sebagai teladan dalam kita berkarya-bekerja di PTAPB-BATAN ini agar pada saat Tuan kita kembali dari LN kita bisa berpuas hati untuk menyampaikan hasil karya-kerja kita dan boleh mengharapkan rewardNya. 

Semoga Tuhan Yesus selalu menguatkan niat kita ini untuk memikul salib dan mengoptimalkan talenta kita dalam bekerja dan berkarya di PTAPB-BATAN/STTN-BATAN. Demikian yang bisa saya sampaikan pada pertemuan siang ini. Semoga ada hal yang bermanfaat dan bila ada yang kurang berkenan di hati bapak ibu saya/kami mohon maaf.
Syalom dan Berkah Dalem

Referensi :

1.            Buku Panduan Misa Minggu Pra-Paskah ke IV bulan Maret 2013, Gereja
       Katolik Santo Paulus – Pringgolayan, Banguntapan, Bantul.

2.            Perumpamaan tentang Talenta (Matius 25:14-30/Lukas 19:12-27) atau
       Gadis-gadis yang bijaksana dan yang bodoh (Matius 25:1-13)




3.             Menyangkal Diri dan Memikul Salib (Matius 16:24 – 28 )








Tidak ada komentar:

Posting Komentar